Part 1. Intro.
Aku benci harus menulis ini karena ini tentang cinta. Kenapa? Karena cerita cinta tu cuma buat orang cengeng dan pemimpi. (karena aku yang menulis ini berarti aku termasuk).Yah, pemimpi. Soalnya slogan-slogan dan dongeng-dongeng yang beredar di masyarakat membuai manusia dalam keindahan semu belaka. Contoh slogan misalnya; Everybody Get One. Slogan ini memaksa kita untuk terus mencari, mencari, dan mencari Mr/Ms. Right sampai titik darah penghabisan. Mencoba dengan yang ini, bertengkar dengan si anu, berakhir dengan yang itu. Semua proses. lama dan panjang ibaratnya kayak air mineral Aqua yang telah melewati beberapa kali proses penyaringan dan bagi dia yang kurang beruntung mungkin cuma bisa merentangkan kedua tangannya di tengah heli-pad dan hujan deras sambil teriak, ‘Di mana Soulmate ku?’. Dongeng-dongeng seperti Cinderella dan Putri Salju karya Pamela Anderson ups..maksudnya Hans Christian Andersen yang udah kita tahu sejak balita juga selalu memaksa adanya happy ending. Membuat kita kurang berhati-hati dalam menjaga keselarasan dalam suatu relationship. Terlalu menggampangkan karena menganggap semua hal yang kita jalani akan selalu happy ending. Coba kalo para orang tua mulai mencekoki anak-anaknya dengan cerita-cerita yang memperbaja mental bak kopasus dengan cerita Malin Kundang atau Crying Stone yang endingnya ngegantung dan menggenaskan pasti mental kita-kita ini
lebih kuat dan lebih berhati-hati dalam bertindak. Atau mungkin dengan pemberian video tentang keadaan di Bosnia atau Palestina pasti jiwanya kalo gak berkembang semakin dewasa yah palingan bakal agak terganggu dikit dan jadi psycho kalo udah gede.
Well, balik lagi ke pokok masalahnya..Cinta. Aku baru saja terjebak dalam kegilaan cinta yang sangat bertolak belakang dengan idealismeku selama ini.
Oh, Tuhan di mana lagi harga diriku? Mengapa kutangisi pria itu? Okay, mungkin jika anda baca, anda akan mengernyit dan berkata ‘Ih, gak penting yah nangisin cowok!’. Dulu aku juga berpikiran seperti itu, Saudara-Saudara sekalian. Tapi percayalah, akan ada suatu waktu di mana ada satu titik, satu hal yang gak bisa dijelasin secara rasional mengenai aib itu. Mengapa? Karena otak tak mampu lama-lama berperan sebagai hati (La Rochefoucauld-Maxims).
Hmmm. I’m Tough. really. Gak setetes pun air mata aku keluarin pas diton**k kakak kelasku (ow, tolong di ekspos. thanx–ups i’m on trouble now). Tapi begitu menghadapi urusan cinta..jangan ditanya. Quite sensitive and fragile. Maka, dengan ini aku tulis part 2 yang menjabarkan sedikit tentang awal mula dari semua kisah complicated ini.
Part 2.
Aku menjalin hubungan dengannya..(kok bahasanya kayak di rubrik curhatan majalah-majalah di salon murah sih?). Okay, pokoknya aku ketemu sama nih cowok (yang bikin gila) pas MOS kelas satu SMA pagi-pagi gitu. Awalnya sih gak ada apa-apa, cuma ngobrolin tentang musik (secara pada saat itu aku masih terobsesi menjadi emo–sampe sekarang sih). Gak lama trus jadian gitu deh (malu mau nyeritain prosesnya). Yang unik dan yang bikin rasanya pengen banget nelen pedang, nih cowok gak romantis dan cuek gila (plus freak. ingat itu, plus freak!). Gimana gak pengen nelen pedang, dia gak pernah nyebut namaku (3x ). Gak. Gak. Ini serius. Dia gak pernah manggil namaku. Gak pernah bilang sayang apalagi cinta (kenal aja kayaknya gak deh dia). Sementara aku yang biasa ‘menyetir’ cowok (menindas lebih tepatnya) merasa kewalahan dan frustasi dengan keadaan yang berbeda jauh dengan mantan2 terdahulu. Ya iyalah biasanya aku selalu
dihipnotis dan dibuat fly dengan rayuan pohon kelapa (Ismail Marzuki–cadas!) , gombal maksudnya (udah deh, cewek-cewek jujur aja suka kan digombalin? bego lu!). Misalnya kayak dikit-dikit ngomong, ‘aku sayang banget sama kamu’, ‘kamu belah aja dadaku pake golok’, ‘kamu cantik deh, kayak nenekku’, yah pokoknya sejenis gitu deh. Trus lama-lama aku tanya ke dia, berikut kutipan pembicaraan di telepon:
aku–polos : Kamu kok gak pernah bilang sayang ke aku sih?
dia–pinter : Emangnya penting ya, ngomong-ngomongin gitu? yang penting kan bukti.
aku–polos : Tapi buktinya apa? Manggil namaku (3x) aja gak pernah. Kamu sayang aku gak sih?
dia–pinter : Itu tu pertanyaan RETORIKA.
aku–polos : Eh, bahasa Indonesia dong ngomongnya! Retorika apa siih?
dia–pinter : Kamu pikir itu bahasa Rusia? (lalu dia menjelaskan arti retorika bak ensiklopedia). Gini aja deh kamu percaya gak sama aku? percaya itu
penting lho..
aku–polos : Tapi kamuu…
dia–pinter : Denger ya itu tuh udah HUKUM ALAM kalo bla bla bla direaksikan dengan blu bli ble maka akan bli blo bla..hal itu sangat KONTRADIKTIF sehingga bla blu blee. jadi PRINSIP hidup aku…
aku–polos : (udah mati ketiban KBBI, ensiklopedia dan buku pintar (cring). Oh, okay. ya udah yaa. Aku belum ngasih makan anjingku. Dadah.
*ini pembicaraan anak kemarin yang baru lulus SMP lho.
Dahsyat kan punya cowok kayak gitu. Selain itu di kelas dia juga jago PKn . Politikus–wanna be kayaknya. Yang aku pikirin, kasian juga yaa pasti waktu masih kecil dia gak pernah dibacain buku cerita Cinderella, Cindelaras, Putri Salju atau Malin Kundang. Kayaknya sih dibacain buku Undang-Undang Amandemen, KBBI, buku pintar, ensiklopedia, yah pokoknya yang sejenis begituanlah dan lullaby-nya lagu Indonesia Raya atau God Save The Queen.
Intinya, dia bikin aku penasaran, dia menaklukanku (secara aku gak berhasil ‘menyetir’ dia). Secara gak langsung semua hal yang gak biasa itu memaksa otakku untuk berpikir dia tu kenapa yaa? Mencoba paham dan mengerti, apakah arti ini semua, Tuhan? Yah, berarti dia ngajak aku untuk berkembang menjadi berpikiran dewasa dan beda. Sekarang aku tahu, dia gak pernah bilang sayang karena dia menginginkan sebuah pembuktian real tak sebatas kata-kata (gak seperti mantan2ku yang terdahulu). Kata-kata itu ’sakral’ dan menurut dia gak gampang bilang sayang. Jadi, waspadailah lelaki yang sering bilang sayang. Biasanya di luaran ceweknya banyak.Aku juga gak pernah bisa marah atau ngambek sama dia karena dia juga gak peduli. Bahkan dia juga kayak gak ada beban gitu, ‘klo mau putus-putus aja. ya udah..’pengen ngunyah paku gak sih rasanyaa? Temen-temenku sih udah pada nyerah katanya kalo jadi aku. Tapi aku gak. Aku tahu ada
sesuatu dalam diri dia yang membuatku terjatuh semakin dalam dan dalam. Wajar aku sangat menyayanginya, dia begitu berbeda. Dia satu-satunya. Dia menambat hatiku (asik). Gak romantis dan cuek. Satu tahun lebih satu bulan. Sebelumnya putus satu bulan. Masalah yang sama. Salahku. Dia gak percaya lagi. I’m addicted to him. Aku jadi ketergantungan. Itu paling bahaya menurutku (yeah. Aku pantes dapetin Nobel nih. Aku nemuin zat lain yang menimbulkan adiksi selain narkoba). Masalahnya adalah aku terlalu sering smsin dia pada saat yang tidak tepat, meminta balasan dalam waktu instan (jadi inget sebuah novel berjudul Conrad Si Anak Instan), gak mandiri, manja banget (Oh, guys! Cewek manja itu wajar! Tapi kalo temen cowok lu yang manja–tanda-tanda tu)dan sering ngerepotin.Beberapa hari sikapnya beda. Dia makin deket sama temen2 cowoknya. Joko (temennya) baru aja mutusin Lela karena alasan ketergantungan. Mungkinkah ini akan menimpaku juga? Dan aku pikir
jawabannya iyaa.
Part 3.
Several Days in Samsara
Day 1.
1/11/07
Dia menghindariku. aku berbicara dengannya. berdua. aku gak mau lama-lama berantem sama dia. firasatku gak enak. apakah ini akhir dari semua ini?
aku takut. dia bilang tentang tanda-tanda mau putus. oh, no! aku cuma bisa tanya kenapa? kenapa? KENAPA? 10 hari lagi aku ulang tahun. haruskan aku jomblo pada saat ulang tahun? dia marah banget. katanya, ini udah batas kesabarannya. aku tahu dia cowok yang sabar menghadapi cewek egois yang gak pernah tau sacrificenya. This is Song Of Wave–Kahlil Gibran for him:
at eventide, I sing to him the song of hope
and then print smooth kisses upon his face
I am swift and fearful..
but, he’s quite, patient, and thoughtful..
his broad bossom soothes my restlessness
aku masih inget smsnya lebaran kemarin, A7X:
I’d do anything for a smile
holding you til our time is done
we both know the day will come
but i don’t wanna leave you
inilah kutipan percakapan senja itu (please, girls. dun try this at your life. it embarrassed. really),
aku–sedih : Jadi kitaa…(muka-muka monang–mo nangis.)
dia–tegar : aku cuma pesen sama kamu..
aku–sedih : (aku membekap mulutnya–kayak penculik anak kecil) aku gak mau denger. kamu bilang ‘pesen’ seolah-olah ini..yang terakhir.
dia–tegar : Mungkin. Gak ada yang abadi. Nanti kalo kamu punya cowok lagi, kamu gak boleh bergantung sama dia.
aku–sedih : (Banjir air mata–Sumpah udah berusaha nahan tapi gak bisa!)
dia–tegar : (Matanya membelalak–Gak percaya mungkin sama yang dilihat. Aku emang bukan tipe cewek cengeng. Dia menyeka air mataku.)
aku–sedih : (Aku membuang muka. Aku gak mau dia tahu aku bercucuran air mancur)
dia–tegar : (Tetap menatapku)
aku–sedih : I love you (aku membisikan itu di telinganya dan mendekap erat tubuhnya)
Tadinya aku pikir dia gak mau dipeluk tapi gak. Justru sebaliknya. Dia mendekapku lebih erat seperti gak mau kehilanganku. Sebenernya yang
mau mutusin siapa sih?
dia–tegar : Aku sayang kamu.
aku–sedih : Kamu apa-apan sih? Kok ngomong gitu? Gak. Aku gak mau denger. Kamu kan gak romantis. Kamu gak pernah bilang itu dan aku suka kamu yang begitu. Kamu yang cuek (aku takut banget, dia tiba-tiba berubah jadi bisa ngomong itu. apa ini emang yang terakhir?), Trus kenapa kita mesti putus?
dia–tegar : Ini bukan masalah perasaan.(he kissed me smoothly). Aku cuma bisa kasih kamu kesempatan sampai besok. Hari Jumat. Kalo kamu bisa buktiin ke aku kalo kamu udah berubah. Kita masih bisa lanjut. Semua tergantung besok.
aku–sedih : (aku melepaskan ciuman itu. aku takut itu yang terakhir. Aku terisak. Dadaku sesak. Kepalaku pusing dan merasa mual. Dia mendekapku semakin erat
membuatku semakin sesak.) Kamu tahu, rasanya aku gak pengen hari ini berakhir. Aku gak mau lepasin tanganku. Aku gak mau ini jadi yang terakhir.
I’m not ready for this. Aku gak mau pulang. Aku gak mau tidur. Aku mau sama kamu aja.
dia–tegar : Gak mungkin. Matahari akan bergerak ke timur. Jam 12 akan bergeser ke jam 12.15, 12.30, jam 01.00 pagi…dan besok pagi
aku–sedih : (aku semakin terisak dan dia semakin erat mendekapku. Aku udah jadi laundry gratisan buat dia. Aku ngebasahin lengan bajunya dan dadanya)
dia–tegar : aku gak mau denger ada cewek sampe mati karena diputusin cowoknya. diputusin sama orang yang palin disayanginya.
aku–sedih : aku gak kayak gitu kok. (at least se-emosionalnya aku, aku masih bisa berpikir. ya iyalah, ngapain juga mati buat gituan?). jadi, besok kita bakal ketemu lagi dan bahas ini?
dia–tegar : mungkin. tapi bisa aja aku besok gak masuk. mungkin mati. (apaan sih, ngomongnya merangsang air terjun dari mataku nih!)
aku–sedih : kamu gak boleh mati. (bila kau mati..ku juga mati walau tak ada cinta sehidup semati–naif)
dia–tegar : Denger ya, kalo aku yang mati dulu, kamu pasti masih bisa bertahan. Tapi kalo kamu yang mati, aku gak yakin aku bisa..(mas, mas..baru belajar ngegombal ya?)
aku–sedih : (Oh, My Goth! Apa maksudnya dia bilang itu? Dia bener-bener sayang aku. Aku gak pernah tau. Tapi kenapa saatnya gak pas ya?–Bego lu, ****,
dia tu cuma ngegombal.)
dia–tegar : Anggap aja ini sebuah kegagalan kamu.
aku–sedih : Apa? Kegagalan? Aku udah gagal masuk Ipa (aku harusnya ikut olimpiade biologi–nyesek), Aku gagal jadi *N, dan sekarang apa?
apa lagi?
Intinya, kami menghabiskan waktu bersama senja itu. Aneh juga sih, kita kan udah mau putus. Tapi kenapa dia masih keliatan sayang sama aku yaa? Kata dia,
dia sebenernya juga gak mau putus. Katanya, ini bukan pilihan mau apa gak, tapi ini keharusan. I don’t get it. Kenapa kita harus melepaskan seseorang yang
masih sangat kita sayangi?
Beberapa memori masih berputar-putar di kepalaku kayak film hitam-putih, scene yang paling aku suka adalah ketika aku duduk di sampingnya. Dia menggenggam
tanganku dan menciumnya (tanpa suara kecupan). ‘kamu lagi ngapain, sih?’ tanyaku. ‘Kamu tahu kenapa aku nyium tangan kamu?’ dya balik tanya. Aku menggeleng.
‘gak. emang kenapa?’ ‘aku nyium tangan kamu karena aku menghormatimu.’ ‘ooh.’ Akhirnya setelah sekian lama aku yakin sekarang kalo aku perempuan tulen yang
layak diperlakukan sebagaimana mestinya.
Kenapa scene-scene bagus justru muncul pada saat-saat terakhir yaa?
Aku harus lupain dia. Harus. Aku gak boleh cengeng! ****! U’re tough! Failed. Huhu. Aku nangis lagi. Okay. Mungkin gak bisa langsung sekarang. Tapi aku
berusaha.Besok, garis matinya (deadline) untuk nunjukin ke dia aku berubah. Aku siap.
Day 2.
2/11/07
Aku bangun pagi banget karena ada lari Jumat. Secara aku OSIS jadi yah, harus mendampingi tiga angkatan lari pagi itu. Jantungku berdetak kencang.
Aku menyempatkan diri untuk menghitung denyut nadiku (tipe anak ips yang ipa) 84 per satu menit. Aku stress. Tegang. Kepalaku berdenyut-denyut dan mual. Yah, aku kalo stres emang kayak gitu. Duh, rasanya aku gak akan sanggup lari pagi ini. Napasku gak akan kuat dalam keadaan detak jantung yang serasa mau lompat keluar dari dadaku. Gak lucu kan, masa ada OSIS yang di tengah lari pagi tiba-tiba kejang-kejang ayan gitu. Stelah asal dan sok tau nyambung-nyambung kabel sound system dan berharap kesetrum supaya aku gak usah melalui hari ini dan mengerjakan soal ujian akhir dari si dia. Aku memilih untuk lari di samping angkatan tujuh–angkatan dibawahku. Aku gak mau lihat dia, ah. Ntar aku nangis lagi. Sinetron banget kan, nangis sambil lari gitu. Tapi kalo di sinetron kan larinya sendirian, kalo ini bareng 3 angkatan–600 orang. No way. Sama aja aku jadi tontonan 600 oang. Aku lari di bagian depan. Aku gak konsen lihat jalan. Pikiranku udah melayang kemana-mana. Aku tetep konstan berlari. Kok aku gak capek-capek ya? Apa aku kelebihan energi pagi ini? Gak mungkin. Enduranceku tu lemah jadi untuk long way jogging gitu gak kuat, tapi kalo untuk sprint yah lumayanlah. Tapi kali ini beda. Aku terus berlari dan berlari berharap aku juga bisa lari dari semua ini. Tapi itu pengecut namanya kalo lari dari masalah. Tapi rasanya aku pengeen banget ada angin kenceng yang bisa menghempaskanku bagai anai-anai (Bahasanya Nindy–nindyhampirmampus.wordpress.com). Tapi yang ada cuma angin dari kendaraan yang ngebut di sebelah kananku. ‘Nagin..! Awas!’ Munaroh yang lari di belakangku teriak histeris. (Wait! Tunggu. Kok nama gue jadi Nagin sih? Itu kan judul film ular kesukaan Firdha–mampus!) Ternyata aku lari terlalu ke kanan yah, hampir jadi scramble egg buat sarapan Kijang gitu. Tapi itu bukan yang terakhir, selanjutnya Armando yang teriak histeris karena aku hampir jadi nasi uduk pecel lele buat sarapan Metro Mini. Duh, kenapa aku gak langsung ketabrak sekalian ya? Aku bener-bener gak siap menghadapi hari ini.Dia ada di sana. Aku gak berani menatapnya. Aku cuma bisa menunduk kayak anak babi. Kemudian aku beli coklat dan green sand peach (yang passion abis) di circle K. Coklat kan bisa mengurangi stress. Sebenernya dia gak ngizinin aku untuk makan coklat
banyak-banyak. Takut aku gendut, katanya. Tapi berhubung dia gak ada di sini untuk mengingatkanku , maka aku langsung kalap makannya. Sesiangan aku gak mau makan apa-apa lagi. Dia juga gak ada di sana untuk ngingetin bahwa aku harus makan. Dia selalu marah kalo aku belum makan pada jam makan, karena dia tahu aku punya masalah pencernaan serius. Aku balik ke sekolah dan ekskul prancis. Mempersiapkan diri sebagai delegasi sekolahku untuk story telling di UNJ. Well, 3 tahun di CCF bukan jaminan
rupanya. Aku udah banyak lupa dan lidah juga udah kaku, susah jadinya baca tanpa muncrat. Aku sih cuma mikir kasian aja mic-nya nanti jadi rusak karena basah kena muncratan dahsyat. Nih bahasa bikin kepalaku makin pusing serasa abis ber-Flaming (uuw baracuda! halah) ria malamnya.Setelah selesai, aku menemuinya. menunggu vonisnya bak terpidana mati yang harus milih euthanasia, guillotine, kandang macan, kolam buaya atau Pak E*i sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan (mati maksudnya).
berikut adalah percakapan kami,
aku–degdegkan : jadi gimana keputusannya?
dia–cool : (menutup matanya, menengadahkan kepalanya, berkali-kali menghela napas. Aku tahu ini firasat buruk). Aku berharap paling gak
ada satuuu aja hal yang bisa bikin aku yakin hari ini. Tapi ternyata gak.
aku–degdegkan : Jadi apaa? (monang)
dia–cool : Apanya yang apa? Udah gak ada apa-apa lagi kan?
aku–degdegkan : (aku langsung jadi jelly. Aku langsung memeluknya dan kembali terisak-isak. Oh, girls! Please, jangan ada yang kayak aku yaa.
menjatuhkan martabat nusa, bangsa, negara, sekolah, orangtua, tetangga dan diri sendiri.)
dia–cool : (membalas pelukanku, membelai rambutku–poniku)
aku–degdegkan : Kalo kita putus, yang mau benerin poniku kalo berantakan siapa?
dia–cool : Ya, yang punya rambut. (Aku berharap dia bilang, ‘Denger ya, I’ll be there for you. Eke akan benerin ye punya poni, kasih vitamin, sayang kan rambut kamu yang bagus gini nanti patah-patah dan bercabang. Tapi kalo ye mau nambah 50 ribu lagii aja, eke kasih facial dan highlight merah kayak ayam jago. Maklum, eke baru lulus akademi kecantikan.)
aku–degdegkan : Kamu sebenarnya sayang sama aku gak sih? Kenapa kamu lakuin semua ini? (tell me when it hurts–soundtrack)
dia–cool : Dalam hidupku, aku udah banyak ngecewain orang, ngecewain cewek.
aku–degdegkan : Jerk.
dia–cool : Selama ini aku aku hanya sebatas sayang sama cewek. Aku gak pernah bisa bener-bener cinta. Butuh proses lama untuk itu…
aku deg-degkan : (Damn! Selama ini dia gak sayang), jadi selama ini kamu gak sayang?
dia–cool : (menggeleng) gak, aku gak sayang. aku mencintaimu. (OW, SHIT)
aku–degdegkan : (DAR! ada TNT meledak di pintu. TIARAAAP! Berpikir. sejarah adalah kontinuitas–pola-pola yang sama akan selalu berulang. akhirnya seperti yang dulu-dulu dengan mantanku. I conquered him! waaahooo!) aku mengecup pipinya.
dia–cool : (He kissed me again, smooth, long and deep–gila nih cowok gud kisser).
trus percakapan tersebut diinterupsi dengan games seru berhadiah piring cantik (halah), main Monas-Monasan, mainan Pizza Man tapi gak patung Mr. farmer
soalnya jelek dan gak seru. Aku kira setelah obrolan seru, bercanda-bercanda, games yang gak lazim itu, dia bisa melupakan semua kekesalannya padaku, tapi
gak. (jerk!)
(langit sudah gelap tapi gak ada bintangnya–ya iyalah baru maghrib kok. Aku terlentang mencari-cari dimana bintangnya. He laid
beside me. Do the same thing.)
aku–bingung: Kamu masih marah sama aku?
dia–bingung : Masih. Masih banget.
aku–bingung : (nangis lagi tapi gak parah–tapi kalo Pak E*i liat pasti seneng. Lumayan airnya bisa ditampung untuk sumur resapan di rumahya yang
mengikuti standarisasi pemerintah dengan mengkamuflasekan sumur resapannya dengan kolam ikan gurameh bukan gurame. Inget, g-u-r-a-m-e-h!) tapi kita banyak ketawa tadi..(ujung hidungku dan hidungnya bersentuhan)
dia–bingung : (membetulkan letak kacamatanya dan melihatku menangis lalu menyekanya lagi) aku juga bingung. Aku gak tahu harus seneng apa sedih apa marah.
aku–bingung : Aku ngantuk.
dia–bingung : (membelai rambutku dan pipiku) kalo aku giniin terus kamu bisa-bisa tidur beneran. Tidur aja.
aku–bingung : (aku menggeser tubuhku mendekatinya, dan menempelkan kepalaku dengan kepalanya. Aku terpejam dan tidur) Dun leave me
dia–bingung : Aku kasih kamu kesempatan terakhir selama satu minggu ini.
aku–bingung : Aku gak suka. Kenapaa gak satu tahun aja?
dia–bingung : Bukan masalah suka apa gak suka. Ini pilihan. (dia mencium pipiku). Bluh! Huek.
aku–bingung : Hah? Kamu kenapa?
dia–bingung : Rambut kamu nih, masuk ke mulutku! Huek. Bluh. Pahit!
aku–bingung : (ya iyalah. Gimana gak. Secara aku anak emo yang rambutnya pendek-pendek berantakan ke muka dan hobbby pake volumising spray keluaran body shop–think big yang rasanya lumayan beracun.) hhe..(untung aku udah keramas)
dia–bingung : Ntar kamu mau nikah sama siapa? (masih berhadapan sambil tiduran dengan ujung hidung bersentuhan)
aku–bingung : (Ih, ni cowok. Bloon juga ya ternyata dibilangin mau jadi Chai-Ma jugaa!) Ehm, aku gak tau. Mungkin gak akan nikah.
dia–bingung : Alhamdulillah, ya Allah. (sambil nepuk-nepuk dadanya–rasanya aku pengen bilang, ‘kenapa dada kamu? butuh palu godam gaak? aku punya 1 di tas–serasa takut banget kalo aku jawab mau nikah sama dia.)
aku–bingung : Aku gak suka anak kecil. Aku gak mau cepet-cepet nikah apalagi punya anak. Gak banget deh. (tadinya pengen aku tambahin ‘kalo liat anak kecil tu rasanya jadi pengen makan sate’)
dia–bingung : (nepuk-nepuk pipiku) Bagus! Bagus!
aku–bingung : Aku mau having fun dulu. Aku mau traveling.
dia–bingung : (nepuk-nepuk pipiku) Bagus! Bagus!
aku–bingung : Trus aku mau ambil S2 di Stirling University, Gothic Imagination. (Trus kawin sama vampir)
dia–bingung : (nepuk-nepuk pipiku) Bagus! Bagus!
aku–bingung : (ni cowok aneh banget si kalo udah malem. Bagus-bagus doang ngomongnya sambil nepuk-nepuk pipi orang Jangan-jangan dia down sindrome lagi.)
Well, cerita selanjutnya aku belum tau karena aku emang bukan peramal. tunggu postingan selanjutnya!
One more time to say..
i love you always..
P.S : bLUUUUUUUU..
“aku–polos : Kamu kok gak pernah bilang sayang ke aku sih?
dia–pinter : Emangnya penting ya, ngomong-ngomongin gitu? yang penting kan bukti.
aku–polos : Tapi buktinya apa? Manggil namaku (3x) aja gak pernah. Kamu sayang aku gak sih?
dia–pinter : Itu tu pertanyaan RETORIKA.”
pas gw baca bagian ini, gw langsung pengen nyanyiin ke cowok lo itu:
“How does she know you love her?
How does she know she’s yours?
How does she know that you love her?
How do you show her you love her?
How does she know that you really, really, truly love her?
How does she know that you love her?
How do you show her you love her?
How does she know that you really, really, truely love her?
It’s not enough to take the one you love for granted
You must remind her, or she’ll be inclined to say…
“How do I know he loves me?”
“How do I know he’s mine?”
Well does he leave a little note to tell you you are on his mind?
Send you yellow flowers when the sky is grey?
He’ll find a new way to show you, a little bit everyday
That’s how you know, that’s how you know!
He’s your love…
You’ve got to show her you need her
Don’t treat her like a mind reader
Each day do something to need her
To believe you love her
Everybody wants to live happily ever after
Everybody wants to know their true love is true…
How do you know he loves you?
(How does she know that you love her?
How do you show her you need her?)
How do you know he’s yours?
(How does she know that you really, really, truely-)
Well does he take you out dancin’ just so he can hold you close?
Dedicate a song with words in
Just for you? Ohhh!
He’ll find his own way to tell you
With the little things he’ll do
That’s how you know
That’s how you know!
He’s your love
He’s your love…
That’s how you know
(la la la la la la la la)
He loves you
(la la la la la la la la)
That’s how you know
(la la la la la la la la)
It’s true
(la la la la la)
Because he’ll wear your favorite color
Just so he can match your eyes
Rent a private picnic
By the fires glow-oohh!
His heart will be yours forever
Something everyday will show
That’s how you know
(That’s how you know)
That’s how you know
(That’s how you know)
That’s how you know
(That’s how you know)
That’s how you know
(That’s how you know)
That’s how you know
(That’s how you know)
That’s how you know
(That’s how you know)
That’s how you know!
He’s your love…
That’s how she knows that you love her
That’s how you show her you love her
That’s how you know…
That’s how you know…
He’s your love…”
judul laguny “that’s how you know” dari film Enchanted. (kalo masih nyambung, kayaknya lo wajib nonton film ini bedua)
gw paling suka bagian “Don’t treat her like a mind reader”
soalnya kayaknya pas banget menggambarkan si cowok lo itu yang pengen lo bisa gitu aja memahami pikirannya yang rumit, belibet, dan penuh retorika dan kontradiktif itu ^^