blameaphrodite’s

DON’T LOVE ME, I HAD LOST MY PHEROMONE

Lari Pagi April 6, 2008

Filed under: Clausal — blameaphrodite @ 2:32 pm

Hello World!

Gue mau membicarakan tentang tradisi sekolah gue tiap Jumat pagi, yaitu lari pagi. Menurut sebagian besar responden, lari pagi merupakan momok yang sangat menakutkan, menjemukan, melelahkan, dan merugikan banyak pihak. Ingin tahu mengapa, ikuti ulasannya berikut!

Selain membuat badan tetap sehat dan bugar, lari pagi juga punya banyak kelemahan yang saling berkaitan dan membentuk suatu rantai panjang.

Pada hari Jumat, otomatis bangun lebih pagi karena adanya lari pagi. Hal ini menyebabkan pada tiap Kamis malam, tidur kita menjadi kurang. Apabila solusinya adalah tidur lebih cepat, bagi siswa SMA X tentu saja tidaklah mudah, karena tiap hari aktivitas sudah cukup padat. Terutama bagi anak IPA yang mengikuti tambahan serta les di sana-sini ataupun pengurus OSIS yang prokernya mesti terkejar dengan rapat ini, minta sponsor itu, dan urusan-urusan lainnya. Setelah pulang sekolah agak larut, kita masih harus juga mengerjakan tugas, pr, atau malah belajar untuk ulangan. Tidur lebih cepat bukanlah solusi. Kemudian, berbagai gangguan penyakit mulai timbul, selain itu juga membuat penampilan fisik menjadi tak sedap di pandang. Adapun penyakitnya salah satunya adalah sembelit. Karena tidak sempat mengeluarkan si feses pada pagi hari itu membuat perut menjadi sakit, apabila terlalu lama bisa jadi sembelit. Sementara tampilan fisik yaitu adanya kantung mata. Benar-benar ironis!

Karena bangun lebih pagi, orang rumah pun ikut-ikutan repot semua. Asisten rumah tangga jadi sibuk nyiapin sarapan lebih pagi dari biasanya, sehingga ia juga kehilangan beberapa jam waktu tidur. Mereka yang harusnya bisa free talk sama teman-teman sesama asisten rumah tangga, jadi terlewatkan obrolannya. Teman-teman mereka pun mulai menganggap mereka tak asik lagi untuk diajak bergaul, jadilah asisten rumah tangga kita tidak punya teman yang intens lagi. Bagi yang belum menikah, pastilah akan sulit jodoh, karena tak bisa bergaul. Temen cowok yang lagi PDKT jadi mundur teratur. Bagi yang sudah menikah, tak bisa menambah jumlah selingkuhan lagi. Akhirnya mentok-mentok, mereka menelepon rekan-rekan sesama asisten pas siang-siang yang udah gak free talk lagi demi menjalin silaturahmi, walaupun akibatnya pulsa jadi abis. Karena tak terbendung lagi kebutuhan untuk saling komunikasi, gajinya yang dikirim ke kampungnya tak sebanyak dulu. Anak atau adiknya jadi putus sekolah gara-gara gajinya dipake buat beli pulsa. Itu menambah deretan anak-anak putus sekolah yang sama dengan calon pengangguran dan sama dengan akan meningkatnya kriminalitas di Indonesia.

Selain itu, ada juga Sang Supir. Yang harusnya pagi-pagi dia masih bisa berkumpul bareng anak istrinya, gara-gara kita lari pagi, dia gak sempet ngobrol sama anaknya karena masih tidur. Kurangnya komunikasi dalam keluarga bisa menimbulkan masalah. Bisa aja tiba-tiba anaknya merasa ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaan lalu merasa dinomorduakan, ayahnya tak pernah ada setiap dia punya masalah untuk diceritakan karena ayahnya berangkat pagi-pagi sekali. Anaknya pun frustasi lalu dia menjadi pecandu narkoba. Setelah itu dia mencuri barang-barang di rumah untuk dijual dan dibelikan morfin. Dia menjadi sampah masyarakat. Dia menularkan HIV/AIDS kepada kekasih dan teman-teman se-genknya. Berarti dia turut memicu jumlah presentase kenaikan pecandu narkoba di Indonesia dan pengidap HIV/AIDS. Selain itu istrinya pun merasa kurang diperhatikan oleh suaminya, akhirnya istrinya selingkuh dengan orang lelaki beristri. Hal ini terang saja sangat mengganggu keharmonisan si pria beristri tadi. Akhirnya munculah slogan-slogan, ‘STOP VIOLENCE AT HOME!’. Karena sang suami ketawan selingkuh, istrinya sakit hati dan membabibuta memukul suaminya, lalu suaminya babak belur dan dibawa ke rumah sakit. Karena mereka tergolong masyarakat kecil, jadi mereka gak membayar uang rumah sakit, melainkan menggunakan subsidi pemerintah. Subsidi pemerintah untuk masyarakat ekonomi bawah dalam bidang kesehatan menjadi berkurang. Padahal subsidi itu lebih bermanfaat kalo ada orang tidak mampu yang punya penyakit serius yang butuh penanganan segera seperti DBD atau kanker otak atau tumor.

Pada hari biasanya, kita masih bisa menyapa Pak Satpam di komplek kita yang selalu membukakan gerbang untuk kita dan memberi senyuman—senyum itu kan ibadah, berarti kita dapat pahala. Tapi kita gak pernah kenal sama Pak Satpam yang shift hari Jumat, karena pada saat dia membukakan gerbang, dia masih ngantuk jadi gak terlalu perhatiin siapa kita. Coba bayangin kalo rumah kita ada apa-apa pas hari Jumat, pas satpam itu shift, dia pasti mikir, ‘Huh, ngapain ditolongin? Dia kan sombong sama saya! Gak pernah negor, senyum juga gak! Lagian saya juga gak kenal. Mau dirampok-dirampok deh sana!’. Ck. Ck. Ck. Sungguh berbahaya. Selain itu, pas kita keluar dan minta dibukain gerbang pas pagi-pagi buta siapa tau satpamnya lagi mimpi dapet wangsit dari leluhurnya. Trus gara-gara kita klakson atau kasih lampu, mimpinya langsung ilang. Kasihan kan? Yang harusnya dia udah bisa nemuin warisan leluhurnya dan jadi orang kaya, akhirnya itu hanya menjadi sebatas mimpi.

Karena kita berlari di sebelah kiri, hal ini membuat para angkutan umum susah untuk menarik penumpang. Alhasil, omset mereka menurun drastis setiap hari jumat. Padahal mereka juga harus bayar setoran. Sang supir dan kondekturnya pun jadi puasa, gak bisa makan siang, gak bisa ngasih duit jajan ananknya, anaknya jadi kena gizi buruk, sang istri gak bisa dibeliin perhiasan pada saat hari ulang tahunnya atau pernikahannya. Karena sang supir kurang makan, dia bawanya jadi gak konsen dan ugal-ugalan, selain itu kekurangan minum menyebabkan dehidrasi sehingga sang supir mulai berhalusinasi. Tentu saja al ini sangat membahayakan jiwa penumpang. Akhirnya, terjadilah yang namanya kecelakaan. Ruangan emergency di RS jadi penuh sesak, suster dan dokter jadi nunda makan siang, akhirnya mereka kena maag.

Selain manusia yang merasakan dampak begitu besar dari lari pagi, benda mati pun juga merasakan hal yang sama.

Contohnya mobil. Mobil kita jadi gak bisa istirahat mesinnya. Karena pada hari Kamis malam macet trus kita nyari jalan-jalan pintas, mesinnya jadi panas, air radiator abis, bensin pun boros serta cd player kelamaan dimainin lama-lama juga jadi lemot. Setelah mobil sudah kehilangan staminanya, esoknya si mobil harus bekerja lagi pagi-pagi. Padahal kalo hari biasa, mesinnya masih bisa istirahat lebih satu jam daripada kalo mau dipakai pas lari pagi. Alhasil, mobil jadi cepet rusak. Sering mogok, atau bahkan tanki bensin kebakar sehingga knalpotnya bisa ngluarin emisi yang menyebabkan global warming. Selain itu, pengendara motor atau pedestrian yang ngisep monoksida itu jadi sakit paru-paru. Lagi-lagi pemerintah ngluarin subsidi buat orang miskin gara-gara lari pagi.

Pemborosan juga terjadi. Misalnya air. Kita jadi mandi 2x dalam suatu pagi. Hal itu sangat disayangkan, karena air bersih itu semakin langka, kasihan orang-orang yang kekeringan di sana, sementara kita malah hambur-hamburin air. Setelah itu baju serta handuk kotor kita juga jadi menambah jumlah pakaian yang harus dicuci yang sama dengan nambah air lagi buat nyuci baju kotor bekas lari. Jangan lupa detergennya juga, kan lari bikin celana kita jadi kotor. Enath kena becek atau lumpur atau tanah. Shampoo dan sabun cuci muka juga jadi boros makenya. Biasanya wajah dan rambut kita sehabis bangun tidur gak terlalu kotor, maka kita makainya sabun or shampoonya sedikit. Tapi karena lari pagi udah banyak debu, polusi, dan keringat, kita jadi make 2x lebih banyak.

Pramubakti jadi repot bersihin bekas kita-kita mandi atau keramas atau cuci muka yang menyebabkan lantai kamar mandi becek. Belum lagi bekas sepatu yang kena genangan Lumpur atau tanah basah yang bikin cap di lantai sekolah. Pramubakti jadi mengeluarkan karbol pembersih lantai lebih banyak. Lagi-lagi pemborosan air.

Hal ini juga berdampak pada sepatu. Kita jadi harus rajin beli sepatu baru yang menandakan pemborosan secara financial.

Begitulah kiranya isi otak saya yang lumayan panjang mikirnya. Jadi, intinya, lari pagi jumat itu gak selamanya positive, selalu saja memiliki dampak negative. Tidak hanya terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekat melainkan juga negara, termasuk di dalamnya subsidi pemerintah, tingkat kriminalitas, serta citra bangsa di mata dunia. Sekian.