blameaphrodite’s

DON’T LOVE ME, I HAD LOST MY PHEROMONE

SMOKING December 30, 2008

Filed under: critics — blameaphrodite @ 4:22 am

Hell-O World!

For the second times, I would like to write about smoking.

In our beloved country, smoking had became a habit. The government had made the program and regulation to decrease smoking by forbid smoking in several areas and suggestion to stop smoking. Unfortunately, that program didn’t work.

You can see most of big shopping malls, cafés and the other public services provide the smoking area. It is good. People can still smoking without disturb the others who didn’t like the smoke from the cigarette.

But, remember, only people from the middle to high social class who are habitual to use the smoking areas. Why? Because smoking areas only provided in the places where people from low social class rarely to visit.

Example: Café. Have you ever thought an “angkot” or “ojek” driver went to The Coffee Bean then smoked in the smoking area? Nope.

Ah, that’s it! Government with its subconscious made the regulation and program for certain groups not the society.

So ironic, many people out there don’t know about how deadly dangerous smoking is. Not only for himself, but also people around him, and the environment. It was so tragic, in several times I saw with my own eyes, a father was smoking near his wife and his baby in the sidewalk, under the fly over, or public transportation.

I just thought, “oh, gosh! Doesn’t he know, the cigarettes will give him the bad effect and any diseases one day? or Doesn’t he know, his baby who inhales his smoke will grow up with unhealthy lungs? It is so so so unfair! The baby will get the diseases from the stupid habit of his own father. He is so young and weak, his future is still a long long road.” and I really wanna say to the father, “Why are you so envy? Have fun with your own but you never think about your baby healthiness!”

Another case, when I went to the traditional market near my school, Pasar Mayestik, I wasn’t surprise that most of all men was smoking. When I looked them, I thought, “Why don’t they put up with the others? The passive smoker will get the harder diseases than the active one. Don’t they fucking know, we could get sick of their untolerant hobby?”

But, now I realize. It is not merely they fault. Smoking in front of someone, envy, untolerant, and careless to the environment. Nope. It is not all they fault. It is our fault too.

As the educated people in the middle-high social class with all the facilities, we have to take an action! We cannot careless, close our eyes, and spend our time for shopping or having fun all the time. We have to help them. Share our knowledge.

If the government too late to take any responds, we can suggest our community (friends, school, institutions, club, etc) to pay a doctor or a competent people to held a free workshop for the low social class society in their village to give them presentation about how dangerous smoking is, kind of diseases as the effect of smoking, and persuasive them that smoking is only burn their money-absolutely useless. Or maybe we can make a competition among the villages. Village which success to decrease smoking habit and will win the money or award.

I think that’s all. Hope you, the readers can be inspired by my writing above.

 

Motivator Or MORONator? September 24, 2008

Filed under: critics — blameaphrodite @ 10:32 am

Hell-O World!

Kali ini gue akan mengangkat kasus yang sangat berbahaya bagi perkembangan otak, mental, dan kedewasaan remaja. Yaitu…jeng jeng jeng jeng…Motivator!

Well, gini kalo lo (atau sekolah lo) sering mengikuti (atau terpaksa mengikuti) seminar dan semacamnya, pastinya ada mas-mas yang suka gotong-gotong (lebay) notebook trus nyiapin meja di depan dan screen gede. Itu adalah..pertanda buruk.

Sejujurnya, sesungguhnya, sebenernya dan dalam hakikatnya gue benciiiiiiiiii banget sama motivator. Nope. Bukan karena jiwa gue yang terlalu pesisimis jadi gak punya motivasi. Bukan, bukan karena itu. tapi gue gak suka cara para motivator itu membawakan materi.

Serius. Menurut gue ini adalah sesuatu yang konyol dan tolol dalam satu waktu. Hmm..benar-benar hal yang langka.

Langsung pada titik permasalahannya. Coba lo perhatikan (sebaiknya gak usah deh, mending lo tinggal tidur aja atau makan snack dalam box putih polos atau yang ada gambarnya mawar merah dengan tulisan ‘Selamat Menikmati’), sebelum atau pas ditengah-tengah atau pas mau selesai, tu motivator suka iseng nyuruh kita ngelakuin hal-hal idiot.

Gue juga gak tau ide kayak gitu muncul dari mana. Tapi gue apal banget (karena gue sering terpaksa ikut seminar) beberapa ‘mantra-mantra konyol wajib ucap’. Seperti ini di bawah ini:

STEP 1

Motivator : Nah, biar kalian semua tidak mengantuk, ayo berdiri dari kursi semuaaaaaanyaaaaa! (dengan nada sok riang bergembira dan sumringah)

Setelah ini langkah selanjutnya mereka bakal nyuruh kita ngucapin ‘mantra-mantra konyol wajib ucap’ yang masing-masing motivator berbeda. Gue punya banyak versi kok.:

STEP 2

versi 1

N Motivator: Kalo saya bilang ‘HALO’ jawabnya ‘HAI’, tapi kalo saya bilang ‘HAI’, jawabnya ‘HALO’ yaaaa…

(setelah itu dia akan langsung ngetes lo:)

Motivator: HALO HALO HAI! HAI HALO HALO! LOHA LOHA!

(komen: sumpah, garingnya ngelebihin Badut Pisang di Mekarsari)

VERSI 2

N Motivator: Kalo saya bilang, ‘STAND UP!’, kalian jawab ‘YES, SIR!’ sambil berdiri. Kalo saya bilang, ‘SIT DOWN!’, kalian jawab, ‘THANK YOU, SIR!’ trus duduk.

(setelah itu, dia akan mengetes endurance lo dengan cara mempermainkan lo untuk duduk bediri duduk bediri duduk bediri duduk bediri sampe lo muak dan pantat lo tebel kayak aspal. Selain itu ada keuntungannya, otot paha dan bisep atau trisep lo makin kuat—ngaco)

(komen: saat itu gue merasa nasionalisme gue sebagai US ARMY sangat kentara—rasanya gue pengen lempar granat ke muka motivatornya)

VERSI 3

N Motivator: Kalo saya bilang ‘APA KABAR?’ kalian harus mengacungkan jempol sambil jawab ‘LUAR BIASA!’

(komen: kebayang gak sih lo, kalo salah satu diantara peserta seminar itu lagi dapet musibah misalnya papanya atau mamanya atau neneknya atau kakaknya atau adiknya baru aja meninggal atau yeah, baru diputusin pacar, atau baru dapet kabar kalo dia dijodohin sama kakek-kakek untuk bayar utang keluarga atau hpnya masuk ke closet atau ternyata jenis kelaminnya berubah mendadak dan mesti disunat saat itu juga atau jempol tangannya kelindes tank dan diamputasi jadi tiap kali disuruh ngacungin jempol dia sedih banget atau dia lupa pake deodorant jadi tiap kali ngangkat tangan langsung semerbak. Yeah, banyak kemungkinannya. Tapi para motivator memaksakan kita untuk selalu tersenyum—well, sepertinya itu memang tugas mereka)

VERSI 4

Pada versi ke-empat ini. Ciri-cirinya adalah motivator akan menyuruh kita untuk lompat-lompat, menghentak-hentak tanah, teriak-teriak untuk membakar semangat (tapi bagi gue lebih ke amarah daripada semangat).

Begitulah, gue merasa gue lebih tolol dari anak tolol dengan melakukan hal-hal tolol itu.

Dan setelah gue adakan riset berulang-ulang (boong) dapat disimpulkan bahwa, materi yang dibawakan oleh motivator itu dapat DIPASTIKAN amat sangat membosankan dan mereka sudah tau itu. Sehingga, dipatenkanlah ‘mantra-mantra konyol wajib ucap’ sebagai tradisi tiap kali ada acara seminar untuk mencegah peserta tertidur.

Demikianlah hasil penelitian saya yang memang berpengalaman mengikuti acara-acara sekte sesat itu berkali-kali. Terimakasih.

VOTING: Lebih pantas disebut MOTIVATOR atau MORONATOR kah orang-orang itu? Vote Now!

 

MENTAL BANGSA II-Pegawai Negri April 3, 2008

Filed under: critics — blameaphrodite @ 5:58 am

Hello World!

 

Topik kali ini berisi kritikan kejam, tegas, dan tepat menuju sasaran dari saya pribadi (menantang maut). Boleh dong, memberi kritik. Negara kita kan demokratis! Di undang-undang juga ditulisin kalo kita diberi kebebasan berpendapat. So, gue mau nagih hak gue untuk berpendapat. Bagi yang merasa tidak setuju, tersindir atau merasa nama baik diri sendiri, organisasi, lembaga, badan hukum, dan rekan-rekan sejawatnya terusak sama postingan gue ini, silakan isi comment di bawah.

Cukup untuk basa-basi ala aktivis (aktivis apa apatis? Hayoo) ini. So readers, inilah jeritan hati perempuan 16 tahun..

 

 

Baru-baru ini gue lagi rajin mengunjungi suatu lembaga milik pemerintah karena sebuah keperluan khusus. Gue prihatin banget melihat orang-orang yang bekerja di sana. Bukan apa-apa, tapi mannernya kurang baik di mata gue. Mereka itu datang ke kantor gak tepat waktu. Begitu nyampe, bukannya langsung prepare buat apa kek gitu tapi malah duduk, kongko-kongko (bahasa Nindy), dan baca koran. Trus berkeliaran di gedung, mengunjungi satu ruangan ke ruangan lainnya menggunakan sandal jepit atau teplek (untung sampe sekarang yang gue liat sih belum ada yang make slippers Sponge Bob Square Pants).

 

Gue yang datang ke sana sebagai tamu, merasa gak dihargai aja dengan mereka-mereka yang lalu-lalang di depan gue pake sendal, padahal di kantoran. I know. I’m just nothing. Gue emang masih SMA dan anak kemaren sore, tapi kalo Anda mau dihargai, hargai orang lain dong. Bukannya apa-apa, gue juga gak berharap bakal dihargai atau dipuja-puja di sana tapi maksudnya di mata anak SMA yang kemarin sore aja hal tersebut kurang pantas apalagi di mata para petinggi. At least, jaga wibawa dong. Biar orang juga sungkan dan segan sama kita. Sorry aja ya, tapi setelah ngeliat performance yang asal itu bikin gue juga merasa gak respect sama mereka.

 

Beda lho, kalo misalnya kita bicara dengan sebut Pak Arief Rahman yang penampilan selalu rapi, penuturan kata diatur, sikap perfeksionis, serta pembicaraan berbobot dengan orang yang gak hargain tamunya (terlepas dia anak SMA, SMP, SD, TK) dengan sendal jepitan, sambil ngerokok, dan ngaret. Mereka membuat diri mereka sendiri digampangin orang, dilecehkan karena gak adanya wibawa itu. Kalo dengan Pak Arief misalnya, gue pasti duduk tegak, pake bahasa baku dan jaga sikap. Tapi kalo lawan bicara gue udah ber-aura asal, males, dan sendalan gue juga jadi gak seformal seperti terhadap Pak Arief sendiri.

 

Time is money. Tapi sepertinya hal ini tidak berlaku pada kantor-kantor yang justru milik pemerintah itu. Mungkin waktu mereka banyak, tapi mereka gak punya toleransi terhadap waktu kita. Mungkin memang kita yang ada perlu dan butuh bantuan untuk mengurus ini-itu sama mereka tapi please, don’t waste my time with that bull****. Spontaneous! Kenapa sih mesti basa-basi, haha-hehe dulu, dan berharap kita jadi gak sabar dan nyelipin amplop coklat untuk mempercepat prosedur. Janji jam berapa datengnya jam berapa. Gak ada toleransi sama sekali. Gak semua orang punya schedule kayak Anda, Bung dan Ses. Gue yang lagi buru-buru jadi panik kan. Mau ditungguin, orangnya gak dateng-dateng, mana abis itu ada acara lagi. Mau ditinggal pulang, tapi gue juga butuh, dan udah terlanjur jauh-jauh ke situ. Serba salah kan?

 

Awalnya gue pikir cuma para staf-staf bawah saja yang sikapnya kayak gitu. Ternyata, pejabat-pejabatnya juga gak ada bedanya. Jujur, gue sebagai anak SMA kecewa banget ngeliatnya. Gue kira orang-orang pemerintahan yang sangat kental Indonesianya, nasionalisme tinggi, berlandaskan Pancasila dan dapat menjadi panutan masyarakat ternyata gak punya manner, bahasa Indonesia yang buruk (baik secara lisan maupun tulisan) apalagi bahasa asing.

 

Bukannya gue sok mikir-mikirin urusan kayak gini, tapi, ini juga berhubungan dengan masa depan bangsa, dan masa depan gue tentunya. Gue pengen banget bisa jadi diplomat, dikirim ke luar negri dan kerja di sana terutama KBRI di Prancis. Karena gue udah lama belajar bahasa Prancis dan gak sreg aja kalo gue gak praktek langsung dengan native dan latihan survival di sana. Tapi untuk jadi diplomat, setelah lulus dari jurusan HI, gue harus bisa masuk Deplu.

 

Sorry to say, tapi sumpah gue pengen nangis mikirinnya. Di beberapa departemen dan kementrian yang gue pernah kunjungi itu semua orang-orangnya sejenis seperti di atas. Bokap gue dulu juga kerja di salah satu departemen dan waktu gue masih kecil, gue sering main di kantornya dan menurut gue suasananya gak enak banget. Orang-orang seenaknya, mau makan, mau ngerokok, mau gossip, mau bercanda, mau ngobrol, semua bisa, orang teriak-teriak saling panggil-memanggil, bikin gue tambah pusing. Hal yang sangat berbeda gue lihat di kantor nyokap gue, sebagai perusahaan swasta (bank prancis terbesar ke 2 di prancis warisan Napoleon III yang kemaren abis kebobolan hampir 5 billion euro) semua bekerja secara teratur dan orang-orangnya intelek serta bermanner. Bosnya bukan orang Indonesia tapi Prancis. Orang-orang ngomong pake bahasa Inggris atau Prancis, semua schedule disusun rapi setiap detik sangat berarti, gak ada orang pake sendal, semua orangnya santun dan rapi-rapi, gak ada yang ngerokok dalam ruangan, kalo mau sholat di mushola bukan di ruangannya, jam masuk terjadwal, gak ada yang dateng telat atau sengaja ngaret, semua duduk rapi masing-malsing di meja komputernya. Kalo mau manggil orang pake telepon bukan teriak-teriak ala manusia lingkungan hidup alamiah.

 

Bisakah orang-orang pemerintahan-yang-mencerminkan-bangsa-kita itu disiplin? Padahal menurut gue yang ada di kantor nyokap gue itu udah standar banget, makanya gue shock berat ngeliat kantor pemerintahan. Bukan apa-apa, gue cuma takut gue gak bisa nyambung sama orang-orang kayak gitu kalo misalnya nanti gue kerja di deplu. Gak tau kenapa tapi yang ada di benak gue pegawai negri sama dengan ibu-ibu yang pake seragam trus pake jilbab trus yang suka ngomong-ngomongin temen ala anak SD yang senang bergunjing, “Eh, si Ibu ‘ini’, Kepala Bagian ‘ini’ katanya ada affair lho sama Bapak X di Departemen Y! Astagfirulloh! Harom-harom. Bukan mukhrim! Iih, amit-amit deh! Jangan dideketin, ntar suami Jeng diembat juga lagi. Dasar wanita sundal, muka badak, keparat, blablabla…”. Pake jilbab kok ngegosip. Siap pake jilbab gak sih? Sementara bapak-bapaknya suka bercanda kelewatan sama ibu-ibunya dan ngarah ke pelecehan sexual, tapi ya ibu-ibunya kayaknya seneng-seneng aja dicolek-colek.

 

Yah, gue malu aja kalo harus bergaul dengan ornag-orang macam itu. Ilustrasinya seperti ini:

 

Gue jalan ke mall sama temen kerja gue nanti di suatu departemen. Trus ketemu sama temen SMA gue…

 

Temen SMA:Hey, ****! Long time no see!

Gue:Hey,hey! You’re looking good! Kerja di mana?

Temen SMA: Yah, gue masih jadi asisten dokter di RS X. Sama siapa ke sini? Kerja di mana sekarang.

Gue:Ini, temen kantor di dept X. Yang ini..(cowok ngerokok), trus sebelahnya (jilbaban kolot pake kacamata perawakan gempal), dan (oom-oom hidung belang belah tengah mata kedip-kedip kelilipan)

Temen SMA:oh, ya udah deh. Gue harus pergi lagi. Dah.

Gue:Eh, tapi-tapi. Tunggu..gue..

Temen kerja:Udah kita makan nyok di kantin..

Gue:THIS IS SHOPPING MALL! YOU CAN’T FIND YOUR ‘CANTEEN’ HERE!

Temen kerja:Yah, eneng! Jangan sewot dong. Sini makan bareng abang aja. (si oom-oom)

Gue:Okay, kalo gitu kita makan di Churasco.

Temen kerja:Apaan tu yah, Neng? Ada lalapan kan yang penting? (si jilbaban)

Gue:Tuhan, gue dosa apa?

 

Di Churasco (buffet)..

Temen kerja:Wah, mau ambil nasi goreng aaaah! Woy, woy sini! Ada nasi goreng noh! Di sonoh! (si perokok teriak-teriak—seantero resto nengok)

Gue:Psssst…itu bukan nasi goreng. Itu pataya.

Temen kerja:Waduh neng kok makannya harus pake pisau yah? Pake tangan aja deh..(si jilbaban)

Gue:Eh, eh, gak ada pake tangan! Daripada tangan, kaki aja sekalian!

Temen kerja:Mbak e, Mbak e (si jilbaban manggil pelayan)! Minta kobokan dong!

Gue: HEY YOU’RE F*CKING B*TCH! Udah deh gue cape gaul sama lo. Gak nyambung tau gak! Dasar norak, kampungan! Udah makan lalapan aja lo sana!

Temen kerja:Eh, anak baru! Sopan dikit dong! Sama temen gue ngata-ngatain! Amoral! Sombong! Mentang-mentang cantik, lucu, sexy! Pok! (si oom-oom mukul pantat gue—pelecahan sexual!)

Gue:(melancarkan jurus judo udah gitu gue injek-injek trus gue telpon ajudan untuk ngurus tu hidung belang! Mampus!)

 

 

Itu dia gue belum siap mental untuk bisa bergaul sama orang-orang gitu. Tapi mau gimana lagi mau gak mau gue nanti harus masuk deplu untuk mengejar KBRI di Prancis. Kata nyokap gue, mungkin nanti kalo gue udah masuk deplu, jamannya juga udah berubah. Ibu-ibu itu pasti juga udah pensiun, jadi gue gak ketemu sama ibu-ibu gossip dan bapak-bapak cabul lagi.

 

Tapi sama aja kalo anak-anaknya yang gantiin, gimanapun juga manner itu asalnya dari dalem rumah, gak diajarin di sekolahan. Kalo bokap-nyokapnya aja berasal dari lingkungan hidup alamiah bukan binaan (geografi banget. Maklum anak IPS) dan terbiasa melakukan hal-hal tak bermanner apakah lu pikir mereka bisa didik anak-anaknya menjadi lebih punya manner? Kecuali kalo mereka punya duit cukup untuk masukin anak-anaknya ke JRP, tapi menurut gue kalo yang namanya kebiasaan dan faktor lingkungan sedari kecil yang seperti itu gak mudah juga menciptakan citra bermanner dalam diri seseorang.

 

Gue rasa mungkin ini adalah hal yang sangat mendasar dalam masalah kebobrokan di dalam pemerintahan kita, di dalam negeri kita. Seumur hidup, bangsa kita juga gak akan mendapat citra yang baik kalo orang-orang pegawai pemerintahannya gak punya manner. Malu-maluin. Gimana bangsa kita mau dihargai? Menghargai orang aja gak pernah. Gue herannya tradisi gak baik ini udah berlangsung bertahun-tahun dan gak ada satupun orang yang mencoba bikin peraturan tegas untuk memakai sepatu dengan rapi-bukan sandal, tepat waktu, tidak merokok dalam ruangang, bekerja dengan baik jangan gaji buta, dan yang terakhir anti amplop coklat dan isinya.

 

Gue harap, pemerintah menyeleksi siapa-siapa yang pantas jadi pegawai pemerintahan. Dengan tes kepribadian serta bahasa dan intelektual. Sayang kan, pegawai sekarang gaji buta semua. Kalo cuma dateng ke kantor buat baca korang doang, tukang becak juga bisa, Bung! Kalo perlu karantina, supaya mannernya keliatan dan jangan kampungan dan lelet. Basa-basi ilangin. To the poin aja. Belajar dong, dari luar negri. Jangan cuma nunggu suap aja! Terbukti kan di New York, Paris Hilton aja tetep masuk penjara waktu itu padahal kalo mau nyuap dia bisa ngasih jutaan dolar sekejap. Tapi apa? Emang mental pemerintahan di sana gak korup dan anti suap jadi yang salah ya tetep salah!

 

Postingan di atas, berdasarkan fakta sesungguhnya yang dilihat dari kacamata seorang gadis SMA 16 tahun. Ilustrasi merupakan sebuah contoh kecil karakteristik mereka-mereka. Jujur aja deh, kayak gitu kan? Sekian opini dari gue. Gue harap kritikan gue bisa membangun. Syukur-syukur kalo ada yang mau langsung belajar table manner. Ngapalin nih pisau buat buah yang mana, yang buat roti yang mana, yang buat daging yang mana. Kalo makan ikan pake red wine atau white wine minumnya. Berpandangan luas, gak cuma focus sama apa yang dikerjain. Tau dunia luar. Jangan naïf dan ikutin lomba-lomba debat biar pembicaraan jadi berbobot gak sekedar bergunjing dan sirik-sirikan gak penting. Walaupun gak semuanya begitu tapi yang gue lihat dari kecil sampe sekarang ini ya kayak gitu. Gak berubah.

 

MENTAL BANGSA I-situs itu April 3, 2008

Filed under: critics — blameaphrodite @ 5:54 am

Hello World!

Topik kali ini adalah krtikan-yang-bertujuan-membangun bangsa kita. Baru-baru ini, salah satu temen gue, Nindy, tergerak nasionalismenya akibat terkuaknya suatu situs yang menjelek-jelekan bangsa kita tercinta. Lu bisa buka situs itu dari link di wordpress Nindy di blogroll gue dengan nama ‘MUSUH NEGARA’ atau buka di www.ihateindon.blogspot.com.

Awalnya gue juga sempet gak terima bangsa kita dijelek-jelekin. Walaupun gue ini apatis, autis, parochial, gak apal nama-nama menteri dan gak mau ikutan Wamil (kalo nanti ada). Gue tetep kesel. Bukan apa-apa, gue gak suka aja kita disebut INDON. Kesannya tu kayak UDON. Walaupun gue suka udon tapi gue gak mau bangsa kita disama-samain sama makanan yang teksturnya gak tegas dan menye-menye itu (kayak seorang pria di sekolah gue yang tidak fashionable sekali, karena model rambutnya kayak mangkok, helm, atau jamur. Kemungkinan tukang cukurnya belum berpengalaman, jadi kepalanya dipakein mangkok trus dicukur deh rambutnya ngikutin bentuk mangkok. Berani-beraninya sama gue, ke Firman atau Bengkel Cakep Loe Gue dulu sana!). Maaf agak sedikit kasar, tapi begitulah realita adanya, bagi yang merasa, langsung ngaca aja. Kayak mangkok gak? (oops, gue bikin masalah baru..)

Nah, setelah gue baca tulisan-tulisan di situs itu, hati gue tergerak untuk melakukan sesuatu bagi negara. Sementara Nindy dan Acha udah sibuk meneriakan semangat untuk mengobarkan perang.Gue cuma sanggup menabuh genderang perang saja, bukan apa-apa, tapi gue belum mau mati di usia belia seperti ini, apalagi gue juga masih dalam masa pertumbuhan.

Nindy:Wah, kita harus perang nih!

Acha:Bener, Nin! Bener!

Gue:Gak mau ah, jiper! Lagian kekuatan militer mereka jauh lebih hebat daripada kita.

Nindy:Itu gak penting. Yang penting kita udah pernah ngelewatin Bintama. Kalo Bintama aja bisa yang ini sih gak ada apa-apanya! (Nindy selalu mengandalkan Bintama)

Gue:Justru Bintama yang gak ada apa-apanya. Bangga banget sih sama Bintama!

Nindy dan Acha:Gue mau ikutan wamil!

Gue:Gue nggak.Gue mau jadi perawatnya aja yang yang lari-lari di tengan hujaman peluru, rudal, granat, bom biogas ala pak Shobirien atau meriam sambil pake rok mini dan nolongin tentaranya yang luka trus naburin morfin di perutnya yang sixpack. Eh, tapi gak jadi deh, gue baru inget tentara Indonesia kan gak ganteng-ganteng kayak US ARMY. Males ah. Alay.

Setelah percakapan berbobot barusan gue punya inisiatif untuk menggemparkan pihak kepolisian dengan meng-sms seorang ajudan oom gue di BNN untuk membuka situs haram itu. Yah, abis gimana lagi, kalo gue punya kenalan menteri pertahanan sih gak papa, tapi karena gak ada ya udahlah BNN aja. Toh sama-sama polisi ini.

Reaksi yang gue dapet bisa dibilang lebih dari cukup. Karena hal ini dicek sama Roy Suryo (yang terkenal itu..hoho). dia bilang kalo situs itu adalah produk dari PKI yang berusaha mengadu domba negara kita dengan si negara tetangga.

Sang ajudan pun menjelaskan bahwa untuk terjadinya perang tidaklah segampang itu. Gue pun dapat bernapas lega. Bayangan gue lari-lari pake baju perawat putih dan mini itu sekejap hilang. Kabar lainnya, saat gue bertemu dengan sang ajudan itu, dia bilang kalo PKI sebentar lagi bakal di LEGALkan. What the f***? Lagian katanya kasihan anak-anak cucu keturunan PKI, lapangan pekerjaannya jadi sempit karena gak bisa jadi pegawai negri. Ini beneran lho, silsilah keluarganya tu dicek satu-satu. Kalo ada yang masih keturunan, pasti diblacklist dari pemerintahan.

Sebenernya gak semua yang dituliskan di situ situ adalah negative. Kalo dilihat dari arah positif itu bisa jadi suatu kritikan-yang-membangun dan bisa jadi suatu bentuk penyadaran terhadap kekurangan-kekurangan bangsa.

Read more..