Entah mengapa walaupun bertitelkan anak IPS, tetep aja gue gak pernah bisa akrab sama pelajaran-pelajaran IPS apalagi sama guru-gurunya. Tengah
semester kemaren, raport bayangan gue reboisasi gitu. Nilai-nilai yang gak tuntas di stabilo ijo gitu jadi sorry yah, gak jaman raport kebakaran. Basi! 4 nilai
gue yang gak tuntas salah duanya adalah Ekonomi dan Sejarah. Dari awal gue emang udah tahu gue gak ada bakat hapal-menghapal, tapi apa boleh dikata,
takdir menetukan lain. Gue terjerumus dalam lingkaran hitam ini. (Jeng, Jeng, ini topiknya tentang IPS atau Narkoba yaa?).
Salah satu problematika yang harus selalu gue hadapin adalah bertemu dengan 3 Serangkai IPS Freak + 1 Pria Hi-tech -yang -agak-sesat= 4 Thumbs Up
for this endless suffering! Hip-Hip, HOOOORAY! Oh, yes. Oh, Beybeh! Yeah! Move ur body! Aha! Aha! Yeah! Yeah!
Bisa dibilang, pelajaran IPS di sekolah gue didominasi oleh suatu dinasti keluarga namanya Dinasti Rese. Jadi guru ekonomi gue itu adeknya guru geografi
gue, guru akuntansi gue istrinya guru ekonomi. Sebenernya cuma dua sih yang rese berat, parah, dan naudzubillah min zalik. Guru akuntan gue sih fine-fine aja,
mungkin karena gue suka pelajarannya dan ngajarnya santai tapi tetep aja tu 3 serangkai punya hobby yang jangan sampai ditiru deh. Gak baik. Yaitu suka
banget mainan kunci pintu. (Mungkin tadinya cita-citanya mau jadi ahli reparasi segala jenis pintu, brankas, alarm mobil, dan hal-hal yang tidak dapat diterima
oleh akal sehat manusia.) Jadi, bagi anak-anak yang telat masuk kelas, jangan berharap dapat mengikuti pelajaran mereka-mereka ini karena sesungguhnya,
pintu (surga) telah tertutup dan tak akan terbuka hingga hari lainnya. Begitu bel bunyi, kunci. Begitu masuk kelas, kunci. Benar-benar hobby yang unik, ya?
Kyaaa. (ala komik). Yang paling susah dipahami, dimengerti dan disukai adalah guru geografi. Masuk kelas dia sama dengan menguji adrenalin lu. Auranya..
Uuh..Bikin denyut nadi lu berdetak cepet, secepet kecepatan cahaya. Mind to intro? inilah dialog reviewnya:
Scene 1–Antara di dalam dan di luar.
Guru G : Mana buku kamu, nak? (dari depan kelas)
Murid : Ketinggalan, Pak.
Guru G : Sini, Nak. Maju sini.
Murid : (maju). Iyaa, Pak?
Guru G : Gak usah ikut pelajaran saya, kamu!
Murid : (balik kanan ke mejanya untuk ngambil binder/file dan siap diusir.)
Begitu lewat di depannya..
Guru G : Kamu mau ke mana?
Murid : (bingung, ragu, dan bimbang) Mau keluar.
Guru G : Mau ngapain di luar?
Murid : Lha, tadi bapak yang nyuruh.
Guru G : Ya, iya. Trus kamu mau ngapain di luar?
Murid : Gak tau, Pak. (Ya elah, jalan-jalan ke pantai lah! banyak angin!)
Guru G : Ah, dasar kamu gak jelas. Ya udah duduk lagi sana. Dari pada di luar gak jelas. Mending di sini dapet ilmu.
Yang gak jelas siapa yaa?
Scene 2–Perhatikan pertanyaanya.
Tiap hari Jumat para wanita diwajibkan mengenakan pashmina dan pria-pria mengenakan peci selama kelas berlangsung. Pada suatu Jumat, Ani (nama disamarkan) yang
seorang OSIS harus menyelesaikan suatu project bersama Budi-seorang anak IPS (nama disamarkan). Ia mengambilkan sebuah surat izin keluar pelajaran untuk Budi yang sedang belajar
(bersama ibu Budi-halah)di kelas Geografi. Ani yang malang rupanya lupa mengenakan pashminanya dan meninggalkannya di kelas Fisika.
(ketok-ketok ruang Geografi)
Ani : Assalamualaikum, Pak ***. Saya mau minta izin untuk Budi yang…
Guru G : Pashmina kamu mana, Nak? (muka voldemort)
Ani : (Oh, My Goat! Oh, My Goth! Oh, My..darling Clementine..) Oh, iya Pak. Saya lupa. Hehehehe.
Guru G : Nak! Saya tanya, di mana pashmina kamu? Saya tidak tanya kamu lupa atau ingat (atau parkinson).
Ani : (Oh, Pashmina saya warnanya merah tu, Pak. Kakek saya autis tu, Pak.–makin gak nyambung) Oh, Iyaa, Pak. Tadi ketinggalan di ruang
Fisika. Maav ya, Pak. Jadi gini, Pak. Saya perlu Budi untuk…
Guru G : Sekarang kamu keluar, ambil pashmina kamu, baru masuk sini lagi.
Ani : (Da da di da di doom)
Scene 3–Jangan remehkan surat walaupun sekarang bisa pake e-mail.
Guru G : Selamat pagi. Baik, Bapak akan absen. Alehandro! Barbara! Cheng Li! Dolores! Esperanza! Isobel! Kurydewsky! Laksmi!
Laksmi : Hadir, Pak!
Guru G : Kamu kemaren ke mana?
Laksmi : Gak masuk, Pak.
Guru G : Saya tahu. Kamu kenapa gak masuk?
Laksmi : Saya sakit, Pak.
Guru G : Sakit apa?
Laksmi : (Sakit jiwa, Pak. Udah parah lagi!) Sakit flu, Pak. Ohok. Ohok. Huohock ohocks. HUohokS. Hueks.(pake efek batuk biar meyakinkan)
Guru G : (tak terkecoh–padahal udah pengen nimpuk tu anak pake Combantrin.) Suratnya mana?
Laksmi : Ehm..Ohok. Saya sudah berikan pada wali kelas saya, Mrs. Cookies.
Guru G : Tapi wali kelas mu gak ngasih keterangan apa-apa ke saya tuh.
Laksmi : Ya, tapi neneknya tante saya juga udah telepon…Ohok-Ohok
Guru G : Ya, tapi sekarang gak ada suratnya kaaan? (sumpah, ngomongnya pake nada!) Berarti..ALPHA! (tok-tok-tok. Keputusan tidak dapat
diganggu gugat.)
Laksmi : Pak, tapi..
Guru G : Mario! Oscar! Rosie Liu! Juminah!
Laksmi : Pak..Ohok. Ohok. Ohuuuooks. Huoeks. Saya..Ngik. Saya. Ngiik.. (langsung bengek asma)
Yah, bisa bayangkan betapa sulit untuk memahaminya. Unluckily, gue harus bertemu dia 4 hari dalam 5 hari sekolah. Gak kayak di sekolah lain yang killer guru
eksak. Kalo di sini..Hmm.
Guru ekonomi yang juga merupakan adik kandungnya memiliki sifat yang tak berbeda jauh hanya lebih mending. Dia punya suatu kebiasaan unik yang agak
mengganggu konsentrasi gue (doang) di kelas. Dia menggantungkan bermacam hal di leher dan tangannya. Contohnya tempat pensil menerawang yah semacam rajutan
gede-gede Made in Baduy diselempangin, kartu tanda guru dengan logo Slank (Fansnya), dan peluit. Peluit emang fungsinya untuk menyiksa anak-anak
yang dapet hukuman lari. Biar suasananya dapet dan greget kali yaa. Tapi justru tu peluit bikin gue pengen ketawa mulu. Gue jadi inget lagunya Beyonce
yang Up Grade. Hoho. Kan ada suara-suara peluitnya tu..
Tapi dia tipe pria romantis gak kayak *****. Jadi waktu itu beberapa anak baru tau dia suaminya guru akuntan, “Pak, bu Akun tu istri bapak ya?”
Pak Ekonomi itu menggeleng lemah, dalam hati gue cuma teriak, ‘Laki-laki semua samaaaa! Aligatoooor. (Kalo buaya jadi kampungan)’ -tenang nak.
Tapi buru-buru ia jawab, “Bukan, Nak. Dia bukan istri saya, dia…Permaisuri hati saya.”
Beruntunglah wanita yang bisa dicintai sedemikian rupa oleh laki-laki zaman sekarang. Apa cuma gombal doaang? hhehe.
Berikutnya adalah guru sejarah yang tak punya hubungan kekerabatan dengan 3 serangkai. Beliau adalah guru yang luar biasa unik, hi-tech, mistis dan garing.
Beliau bisa mengetahui siapa-siapa yang nyontek pas ulangannya tanpa mengawasi. Wow. Selain itu, beliau gemar sekali memberi tugas dan selalu meminta
tugasnya dikumpulkan dalam bentuk softcopy. Yang namanya kertas apalagi buku, beliau tak kenal lagi. Yah, masih untunglah. Daripada beliau minta tugasnya
ditulis di batu dalam huruf pallawa dan bahasa sanskerta.Contoh tugasnya tuh bikin homepage, peta persebaran artefak dengan jumlah kb yang ditentukan dan lain-lain.
Maka tak heran bila banyak anak IPS yang her sejarah, hal itu dikarenakan jawaban dari soal-soal ulangannya tidak ada di dalam buku melainkan harus
di cari di google. Di bawah ini adalah review tentang her lisan yang diadakannya pada suatu selasa yang membuat Adi (nama sebenarnya) sangat terpukul,
shock, trauma dan neurotic hingga sekarang.
Guru S : Saya punya sejumlah kertas. Masing-masing kertas kodenya berbeda dan terdiri dari 7 soal. Bagi orang pertama yang berani mencoba
pertama kali dan berhasil menjawab benar ke tujuh soal tersebut, maka Saudara akan saya berikan nilai 100. Dan untuk orang-orang berikutnya,
satu nomor hanya dinilai satu. Jadi nilai maksimalnya bukan 100 melainkan 70 saja. Nilai yang saya ambil adalah nilai perbaikan lisan ini. Jadi
apabila Saudara sebelumnya mendapat nilai 60 dan pada perbaikan kali ini mendapat 30, yang saya masukan adalah 30.Ada yang berani
mencoba?
(Suasana kelas hiruk-pikuk, gegap-gempita, riuh-rendah, chaos deh pokoknya)
Provokator : Di! Lu aja maju! Ayo, Di!
Adi : (kaget) Lah, kok gue sih?
Satu kelas : Iya, Di! Ayo, Di!
(Anak-anak sekelas penasaran banget soalnya kayak apa, maka Adi lah yang jadi batu sandungan buat tahu soalnya kayak apa.)
Gue : Oh, C’mon, Di! Ayo dong!
Adi : (ragu)
(FYI, Adi adalah bussines man tingkat pelajar. Dia gemar sekali menjual tugas-tugas–yang biasanya harus browsing di internet, bawain anak IPA kodok
untuk praktikum yang dijual seharga tertentu padahal dia gak beli a.k.a nangkep sendiri–bolang sekali bukaan? Selain itu mencatat soal dan jawaban bocoran
ulangan sana-sini dan membagi-bagikannya dengan murah hati. Gak cuma bussines man, dia juga punya jabatan kacung kelas–kasaaar! Kalo ada spidol guru
yang abis, dia yang ngisiin atau nukerin ke TU. Kalo ada anak-anak yang cabut, dia yang bawain tas-tasnya. Suka nyapu, ngepel, nyuci kamar mandi sekolah,
membantu proses melahirkan kucing sekolah dan nyabutin rumput di lapangan sekolah–5 kegiatan terakhir adalah fitnah.)
Adi : Eh, sialan! Jadi lu semua jadiin gue tumbal?
Satu kelas : Ya iyalaaah..
Adi : Kalo gue dapet jelek gimana?
Satu kelas : Derita luuu..
Adi : (nyesek banget di mt-in satu kelas)
Gue : Udah, Di. Maju aja. Coba. Kan gue duduknya deket mejanya tuh, ntar gue bantuin.
Adi : (benih-benih ke PD annya mulai tumbuh dan ia pun berjalan menuju kursi listrik itu..)
Someone : Iya, Di. Sama. Gue bantuin juga lu! Pake doa!
Adi : (udah terlanjur duduk di kursi listrik. Mukanya ngenes.)
Guru S : (Muka-muka pengen nggali candi)
Beberapa menit kemudian..Benih-benih ke PD an Adi udah layu sebelum berkembang..Kayaknya sih soalnya susah
Gue : Di, dapet brapa?
Adi : 20, Mo. Gara-garanya gue lupa letak palembang di mana. Palembang tu di Jawa Timur kan, Mo?
Gue : (Ngedance sambil karaokean di atas 20 nya Adi) Di, Palembang tu Sumatra Selatan.
Adi : Bukan, Mo! Palembang tuh Kalimantan Timur! Iya! Kalimantan Timur!
Gue : (geleng-geleng)No wonder lagh, 20.
Adi emang parah banget dalam hal peta-petaan. Dulu gue inget banget waktu kelas satu setelah ulangan semesteran Sejarah, berikut dialognya:
Adi : Mo! Gila soalnya susah banget! Ada peta butanya! Untung gue tahu satu pulau!
Gue : Pulau apa, Di?
Adi : Pulau yang bentuknya kayak huruf K. Kalimantan.
Gue : (langsung minggat takut ketularan keterbelakangan mental)
Sebenernya kalo yang ini yang gak bener emang muridnya bukan gurunya.
Scene 1–Sejarah menggugah iman-mu.
Guru S : Kalo orang mau masuk islam, harus mengucapkan kalimat syahadat. Nah kalo orang mau masuk Buddha kayak gitu juga, tapi kata-katanya
beda, bilang aja, ‘Saya berlindung pada Sanggha, saya berlindung pada…”
Nah berarti barusan saya masuk Buddha.
Gue : (La..la..la..la..Saya Zorroaster tuh, Pak. Sebelumnya saya atheis. Eh, tapi saya ikut Lia Eden juga lho, Pak.)
Scene 2–Jangan memberitahu, just do it sebelum orang-orang menyadarinya.
Guru S : Saudara! Perlu Anda ketahui, sesungguhnya bagi saya sangat mudah untuk menyesatkan Anda. Satu jam pelajaran cukup untuk
mencuci otak Anda!
Gue : U..uu…uu…uu Brain Wash. Brain Wash. (ost. Shark Tale–XTina, Car Wash bukan Brain Wash)
Yah begitulah kejanggalan-kejanggalan di IPS. Sebenernya masih banyak lagi, tapi gue takut dituntut karena pencemaran nama baik, perbuatan tak
menyenangkan atau apalah itu. Cerita diatas adalah fakta belaka, kalo ada kesamaan sifat, nama atau karakter merupakan unsur yang memang disengaja.
(Sebenernya gue takut dituntut apa justru menawarkan diri untuk dituntut?)